Wednesday, September 25, 2019

[IMO] Baca Novel Fiksi = Tukang Halu?


"Karena setiap buku, punya pembacanya masing-masing."


Well, I'm back after a longgggggg time ya. Kesibukan di dunia nyata bikin semuanya kacau berantakan, sebenernya banyak banget yang pengen diketik dan diupload ke sini. Kali ini, aku bakalan mulai [IMO] alias In My Opinion tentang pembaca novel.

Pernah denger nggak sih, tentang pembaca novel, fiksi, dan terbitan Wattpad—salah satu platform untuk penulis share ceritanya? Tukang halu alias halusinasi. Yap. Kalau aku pribadi, sering banget. Nggak cuma itu aja, novel fiksi sering dianggap remeh, bacaan yang nggak berguna. Nggak ada mutunya.

Tapi, di sini, aku mau share apa yang aku dapatkan setelah membaca novel fiksi. Biar banyak orang tau, kalo novel bukan sekadar untuk temen santai aja. Tapi punya banyak hal yang kadang nggak kita sadari.


Sejak kecil, aku suka baca cerita. Apa aja, mulai dari majalah, sampai ke buku Bahasa Indonesia. Untuk informasi aja, dulu buku Bahasa Indonesia yang selalu kubaca berulang kali. Sampai akhirnya, aku pindah ke novel KKPK terbitan Mizan. Novel pertama yang aku baca. Kadang juga, aku beli komik Doraemon, komik yang baginya berdua sama adikku. Komik yang sampai lepas semua jilidannya.

Memasuki dunia SMP dan SMA, aku mulai suka baca novel yang bener-bener novel. Mulai dari Mira W, sampai ke novel terbitan Wattpad. Bahkan sampai sekarang kuliah juga masih baca novel. Dan waktu kuliah ini aku baru menyadari banyak hal yang aku dapat setelah baca novel.

1. Lebih banyak kosa kata 

    Kok bisa? Ya iya dong. Karena aku banyak baca, aku jadi banyak perbendaharaan kata, terus mulai bisa untuk menggunakan kata dengan baik, merangkai kata biar nggak berantakan dan plot hole atau loncat-loncat dari satu bagian ke bagian lain. Jadi ya emang harus banyak baca biar banyak kosa katanya.

2. Lebih banyak kenal diksi

    Buat yang nggak tau diksi itu apa, diksi itu pilihan kata yang tepat dan selaras dengan penggunaannya. Mirip sama kosa kata gitu. Biasanya ini dipakai kalau aku lagi nulis laporan, kan butuh kata baku yang cukup banyak. Jadi ini juga cukup membantu.

3. Dapet pengalaman secara nggak langsung

    Aku baca novelnya lebih ke arah yang membahas pernikahan, atau kadang yang thriller juga. Hal itu buatku membantu banyak. Soalnya apa ya, kadang yang ditulis dalam cerita itu, sebagian dari kisah nyata, sebagian juga dari pengalaman temen sendiri, meskipun pakai drama juga di dalemnya. Tapi lumayan kalau menurutku. Aku jadi banyak belajar masalah pernikahan, yang emang kadang nggak kualami di dunia nyata, terus bisa dapet solusi. Mana tau ya kan, nanti temen atau siapa yang ngalamin, kita juga bisa kasih solusi, minimal cara pandang lain. Karena jujur aja, sejak baca novel, aku kalau liat masalah, dari dua sisi. Dari sisi aku sebagai kedua pihak yang bermasalah, misalnya, sebagai yang cowok, pun yang cewek. Jadi kasih solusinya jadi dua juga. Pekara dilakuin apa nggak, ya urusan dia sih. Aku sebagai temen kan nggak bisa banyak ikut campur.

4. Lebih cepet berpikir kalau ada permasalahan

    Ini juga. Kok bisa sih? Ya karena banyak baca itu tadi. Otakku lebih cepet proses berpikirnya. Meskipun kadang lemot juga. Tapi lebih cepet kalo mikir solusi tercepat sementara. Biasanya sih kalau kejadiannya tak terduga gitu.

Itu dari aku. Masih banyak hasil baca novel lainnya dari teman-teman yang lain juga. Baca novel fiksi nggak melulu pekara cinta kok. Nggak melulu menye-menye. Tinggal kita pinter-pinter aja nyari novel yang memang untuk sekadar bacaannya aja, atau ada moralnya. Oh iya, jangan judge pembaca novel fiksi ya. Apalagi sampai membandingkan kayak kejadian beberapa waktu lalu. Membandingkan baca novel fiksi dengan baca novel Bumi Manusia (maaf aku sebut merk, karena emang kejadiannya begitu). Itu nggak elit banget. Setiap buku itu punya pembacanya masing-masing. Nggak perlu memaksakan diri kalau emang bukan bacannya. Untuk apa emang? Kalau cuma buat pamer, mendingan nggak deh. Baca buku itu bukan untuk pamer-pameran, itu justru nggak keren.

That's from me! See you next post! Semoga bermanfaat buat kalian ya

6 comments:

  1. Bener banget, setiap genre novel itu punya pembacanya masing-masing wkwk
    btw aku juga suka baca wattpad, walaupun skrg mayoritas ceritanya mirip-mirip hufffft

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi! Thankyou for reading this.

      Aku juga pembaca wattpad, dan meskipun mirip-mirip, ada beberapa yang aku nggak suka, mungkin dari gaya kepenulisannya, atau caranya menceritakan sesuatu. Padahal dia pembacanya banyak. Ya balik lagi, selera masing-masing.

      Delete
  2. "Nggak perlu memaksakan diri kalau emang bukan bacannya". Bener nih aku setuju, pointnya ngena bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi! Thankyou for reading!

      Sayangnya memang nggak banyak orang yang paham ini. Kadang ada yang maksa tetep baca karena lagi booming/hits. Padahal kalo nggak dibaca kan sayang juga.

      Delete
  3. Kalau memang novel fiksi gak guna, lalu kenapa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah membahas tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra? Kan novel fiksi juga termasuk salah satu bentuk karya sastra. Jadi, kita memang seharusnya tidak men-judge novel fiksi itu gak guna, novel fiksi itu menye-menye. Karena di dalam novel fiksi pun ada amanat yang bisa diambil pelajarannya oleh pembaca. Aku setuju banget dengan postingan ini: "setiap buku punya pembacanya masing-masing" termasuk juga novel fiksi.

    ReplyDelete
  4. Hi! Thankyou for reading!

    Sayangnya, masih banyak orang yang nganggep kalo baca novel fiksi itu receh. Masih risih juga kadang dengernya.

    ReplyDelete

[Saying] Pengennya Sih Nikah Muda...

Hula guys! It's been a months aku nggak update di sini lagi. Huhu.. Padahal ide tuh ada, tapi ya dasar akunya aja yang mal...